Broadway Avenue at Cihampelas Walk = Public Domain or Completely Public Spaces?

Selasa, 25 Oktober 2005

Liverpool

Defined by its multiple public spaces, the approximately $40 million Fourth Grace development also encompasses an infrastructure  program that realigns the city with the waterfront.

“OPEN : new designs for public space” (Van Alen Institute, Edited By Raymond W.Gastil and Zoe Ryan)

Hmmm,..sore ini Ciwalk terasa sangat indah. Setiap kali gue nongkrong di Saint Cinnamon selalu begitu. Hari ini pertemuan Super-B yang keenam, atau yang kelima? Yang jelas, sore ini seperti biasanya Broadway Avenue selalu indah dengan lalulalangnya gadis-gadis nan cantik, sepasang orang tua mendorong kereta dorong bayinya, sepasang pemuda-pemudi menggandeng seekor anjing Chihuahua, satu keluarga besar lengkap dengan neneknya berjalan-jalan tak ketinggalan ceria suara anak-anak saling berkejaran. Siapa yang tak pernah ke tempat ini pasti menyangka yang gue ceritain itu dongeng belaka. Mungkin, tapi itu terjadi betulan, di Ciwalk, di Bandung. Dengan skala koridor yang sangat manusiawi, terlihat langsung langit biru gelap di angkasa, dengan udaranya yang sejuk dan tidak panas, dengan cericau burung-burung (walau hanya berasal dari speaker), dengan deretan pohon pinusnya di samping berm hijau, di belakang tempat duduk taman yang selalu terisi oleh pasangan-pasangan bercinta. Ah, terasa sangat indah dan menenangkan.

Ciwalk2

Mimpi gue untuk bisa merasakan ruang terbuka publik seperti ini akhirnya bisa tercerahkan, walau kita hanya punya satu Ciwalk. Tapi kita mesti berbangga hati, dimana lagi kita bisa melihat gadis-gadis cantik berkulit coklat, hitam dan berkulit putih juga pualam serta bermata kecil lalulalang dalam pakaian mode terbaru dengan aman dan nyaman, tanpa perasaan tertekan atau terintimidasi. Di ruang publik mana lagi? Segala strata sosial terasa lebur, tidak peduli apakah dia hanya anak SMA yang masih beroleh uang jajan, pelayan resto atau waiter (gue udah sering nongkrong di sini sejak masih jadi waiter), arsitek muda yang belum banyak uang, atau malahan eksekutif muda menenteng Powerbook Apple terbaru, sampai kakek-nenek usia lanjut memakai tongkat, semua lebur di sini. Di ruang terbuka publik, di bawah langit terbuka, dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus, di negeri yang konon sedang kalut ini.

Ruang publik, adalah ruang yang diperuntukkan untuk orang umum, masyarakat, warga kota, dapat digunakan secara umum. Namun pada faktanya, banyak ruang publik yang tidak bisa dipakai oleh masyarakat umum, dengan berbagai macam alasan. Kebanyakan adalah alasan kepentingan ekonomi alias kapital. Kenapa rasanya berjalan di jalur pedestrian sepanjang Dago terasa tidak mengenakkan? 10 meter terasa nyaman, 15 meter ketemu dengan tiang listrik memalang tengah jalan, 20 meter mesti menyimpang ke arah jalan raya karena bertubrukan dengan tenda warung tempat jualan Indomie paling ramai se-Bandung Raya. Ah, emang alasan ekonomi selalu jadi alasan yang tepat demi pemerkosaan ruang publik. Contoh kecil, tapi itu nyata dan tak bisa disangkal.   Lain lagi masalah pemakaian dengan kenyamanan.

What are the charactheristic of ‘good’ public space? To what extent can good public space be artificially created?

(Marteen Hajer | Arnold Reijndorp on “In Search of New Public Domain”)

Bayangkan, researcher sekelas Marteen Hajer saja masih terus meredefinisi pertanyaan itu. Lalu bagaimana dengan definisi domain publik (public domain) yang juga terus mengalami perkembangan. Buat negeri-negeri Eropa yang punya sejarah panjang dalam tata ruang, pertanyaan ini bahkan bisa dijadikan bahan penelitian dan riset yang kalau dicetak bisa jadi buku setebal 300 halaman! Ingat saja “HiCat = HiperCatalunya ResearchTerritories” yang juga diterbitkan oleh IaaC+Metapolis. 

Ciwalk3

Cihampelas Walk merupakan salah satu kasus untuk pertanyaan serupa, apakah ruang publik ini benar-benar berhasil menjadi domain publik? Mungkin diperlukan ribuan diagram, jutaan pencatatan data dan belasan kali workshop untuk benar-benar menjawab pertanyaan itu secara ilmiah. Hmm,… berapa lama waktu yang kita perlukan? Apa nanti gak keburu Ciwalk-nya rubuh, atau hancur dijarah amuk sebagian massa (amit-amit jangan sampe terjadi..) yang berafiliasi terhadap kepentingan tertentu? Jawabannya hanya bisa ditemukan di hati masing-masing, di diri anda masing-masing, sebagai warga kota Bandung yang civilized, rasakanlah ruang publik ini dengan sadar hari, sadar ruang, kepekaan yang lebih. Dan rasakan bagaimana hati anda merasakan ekstasi dan kesenangan saat bisa menikmati kemewahan ruang terbuka yang aman dan nyaman, tanpa peduli strata sosial, tidak peduli apakah anda minum kopi di Starbucks atau hanya nongkrong di Saint Cinnamon, atau bahkan hanya berjalan-jalan tanpa membeli apa-apa, sekedar merasakan kesejukan suasana Ciwalk. Temen gue Irwin cerita, dia baru aja dari Singapore, dan merasakan banyak ruang-ruang publik yang memang disediakan untuk dipakai oleh umum. Betapa irinya kita dengan negeri tetangga yang lebih bisa me’manusia’kan warganya melalui penyediaan ruang publik yang menyenangkan.

Ah, apakah kita hanya akan selalu menunggu pemerintah atau pengembang besar menyediakan ruang-ruang seperti itu? Tentu jawabannya tidak! Di hadapan kita sudah banyak ruang-ruang alternatif (bahasa gue untuk menyebut ruang-ruang yang potensial jadi domain publik) yang bisa kita gunakan, kita pakai dan nikmati. Tunjukkan pada semua pihak bahwa penggunaan ruang-ruang alternatif sebagai sarana me’manusia’kan warga kota. Datang ke Common Room, nongkrong di jembatan Pasupati, jalan lewat koridor Borromeus kalau anda mau memotong dari Hasanuddin ke Dago, sejauh itu semua tidak mengganggu orang lain. Tunjukkan harga diri warga kota yang bermartabat dengan penggunaan ruang alternatif jadi domain publik. Jadikan ia tidak lagi sebagai ruang alternatif, tapi sebagai ruang primer, buat kita semua.

Mulailah, buka segala sekat itu, dan rasakan kasih dan cinta merasuk ke dalam hati. Jadikan diri kita sebagai warga kota yang baik, manusia Indonesia yang penuh welas asih! Wujudkanlah beribu-ribu Fourth Grace buat kita semua! Mulailah menikmati ruang publik! Viva urbanismo!

Saint Cinnamon Ciwalk,

Bersama Oky, Peter, Pak Apep, Mas Emil, Mbak Widi, Reza, Suang, Andre, Olive dan mahasiswa Unpar:Cai, Niko, Romi dan satu lagi cewe gue lupa namanya. Ups…

Leave a Reply