Garing!Bandung#1

Kamis, 20 Oktober 2005

OPEN : new designs for public space includes projects from six continents that are changing the way we live, work and play in cities.

(Introduction by Raymond W Gastil and Zoe Ryan for OPEN Exhibition)

Sore ini pertemuan Super Bandung yang ke-4. Seperti biasa, di Saint Cinnamon Ciwalk, menjelang buka puasa gue udah nangkring di meja depan koridor bareng Reza dan Suang. Hari ini kebetulan juga ulang tahun Oky, jadi kita udah siapin satu loyang brownies Cinnamon buat dikasih pas saat buka nanti. Isu utama yang akan dibahas hari ini adalah masalah serangan ke Unpar (Unpar Invasion) yang sebetulnya gue lebih seneng menyebutnya sharing, tapi Reza berkeras istilahnya adalah “serangan”. Kenapa disebut serangan? Dan kenapa seolah ada seiris emosi yang tercemplung dari misi ini?

Cerita tentang kenapa dan mengapa mungkin dimulai sudah cukup lama, sekitar 3 tahun lalu waktu kita mulai merekrut lulusan Unpar sebagai staf di WCP. Tapi bukan cerita itu yang akan dibagi kali ini. Melainkan cerita tentang semangat Super Bandung untuk bikin road show keliling Bandung, membentuk komunitas budaya dan arsitektur yang  kental dengan rasa ‘Bandung’-nya. Komunitas serupa di kalangan seniman dan pe-distro Bandung mungkin sudah lebih dulu bergerak lewat Common Room. Dan mereka sukses dengan berhasil menerbitkan urban cartography dan ikutan CP-Biennale di Jakarta. Melihat resources yang ada saat ini, ditambah prestasi yang kita miliki, para arsitek Bandung, sudah saatnya untuk bangkit membentuk komunitas budaya yang berpijak pada arsitektur dan urban design. Super Bandung, komunitas yang lahir dari para arsitek Bandung bersemangat untuk memberdayakan semangat berarsitektur, berkota dan meng-kota di seantero Kota Bandung. Setelah diskusi yang cukup panjang diselingi canda tawa serta lirikan ke mojang-mojang yang seliweran di depan Saint Cinnamon, akhirnya diputuskan untuk mengadakan road show keliling kota dengan sasaran utama adalah mahasiswa dan praktisi yang aktif di kancah per-arsitekturan. Apa yang akan dibagi? Jelas semangat berarsitektur, berkota dan meng-kota tadi. Lalu apa yang ukuran sukses dari rencana ini? Jelas ukuran suksesnya adalah terbentuknya komunitas yang guyub, adanya regenerasi arsitek dan urban designer yang aktif  dan adanya pertemuan-pertemuan informal seperti acara ngopi-ngopi di Ciwalk ini.

Lalu muncul pertanyaan yang sudah digelisahkan oleh beberapa orang selama ini. Kenapa namanya jadi Super Bandung? Apakah tidak terkesan arogan? Apakah nanti malah jadi mengundang  banyak pandangan kontra? Gue sendiri setuju dengan pertanyyan-pertanyaan ini. Sms dari Rizal juga menyatakan hal yang sama. Pak Apep menyeru supaya kita bias jalan dengan nama yang lebih sederhana, lebih merendah tanpa semangat pamer sama sekali. Istilah Pak Tata adalah humble. Lagi-lagi gue setuju, Oky juga mengiyakan. Kita perlu keluar dengan nama yang bisa mewakili seluruh komunitas di Bandung, bukan hanya para arsitek yang sering menang sayembara. Toh banyak sekali rekan-rekan kita yang juga arsitek dan urban designer tapi tidak banyak ikut sayembara hingga tidak menonjol. Belajar dari semangat Arsitek Muda Indonesia (AMI) yang juga punya semangat berbagi dan maju bersama di awal-awal dulu, kami tidak ingin kemudian terjebak pada eksklusivitas tak berdasar. Eksklusivitas hanya menyebabkan kita terlempar dan terjauhkan dari masyarakat dan kenyataan. Itu mimpi buruk. Lalu kira-kira apa nama yang cocok untuk kita bawa?

Keluar beberapa istilah yang mungkin konyol atau bahkan provokatif. FPA = Front Pembela Arsitektur, cetus Oky. Istilah ini sebenarnya lebih jadi reaksi atas tindakan-tindakan FPI (Front Pembela Islam) yang seringkali salah kaprah, pro kekerasan dan malah jadi bahan tertawaan kaum intelek. Hmmm,..gue masih ngerasa gak sreg dengan nama ini. Terlalu sarkas rasanya, malah nanti mengundang reaksi yang negative dari kalangan muslim. Garing = Gerakan Arsitektur Aing! Ini istilah berikutnya yang dicetuskan Pak Tata dan Pak Apep. Entah kenapa kita orang Indonesia senang sekali dengan istilah-istilah yang berupa singkatan..hehehe. Trus juga muncul istilah Ghaib = Gerakan (Hanya) Arsitektur Indonesia-Bandung, dari Mbak Widi. Hahahaha…ini mungkin lebih ke arah lucu-lucuan. Lagi-lagi istilah yang berbau arab atau berkenaan dengan acara-acara gaib di televisi sering muncul. Mungkin ini adalah gambaran dari cara mentertawakan kebudayaan tontonan kita yang sedang marak itu. Gue sendiri lebih cocok dengan istilah yang kedua, Garing!

Bandung

. Menurut gue, Bandung itu identik dengan ‘bodor’. Ingat D’Bodor, grup pelawak dengan pimpinan Abah Us’us yang selalu memakai peniti besar di dadanya? Itulah Bandung. Lucu, santai, terkesan main-main, padahal bisa sangat serieus. Ngomong-ngomong tentang serius, ingat lagi dengan grup musik rock Serieus. Mereka memainkan musik dengan serius, tapi penampilan dan video klipnya terkesan santai dan lucu. Terasa lebih hangat. Bahkan tema-tema yang dibawakan pada lagu-lagu mereka pun terkesan nakal, menyentil kehidupan sehari-hari, walau tetap dengan santai dan ketawa-ketiwi. Minimal mengundang senyum orang yang mendengarnya. J Lihat juga gerombolan Extravaganza yang sebagian besar adalah urang

Bandung

, Aming, Tike atau Sogi, penonton mana yang tidak terbahak-bahak dengan lelucon cerdas mereka?

Garing!Bandung akan jadi nama yang bagus. Menurut gue. Kental dengan bau Bandung, tapi masih bisa serius walau terkesan mengundang tawa. Pemakaian kata ‘aing’ sudah sangat menggambarkan itu. Lalu dimana seriusnya? Jelas sangat serius karena kita akan mengangkat tema-tema dan isu-isu kontemporer arsitektur dan urban design sampai ke taraf akademik, artinya cukup sarat dengan teori dan wacana, untuk kemudian dicemplungkan ke tataran praktis. Untuk isu urban design, isu pertama yang akan diangkat adalah open space. Menyitir dari buku OPEN : new designs for public space, yang merupakan ringkasan dari eksibisi dengan judul serupa, akan ditelaah kasus-kasus perencanaan open public space dalam perancangan kota-kota modern saat ini. Mulai dari London sampai Singapore, dari Genoa sampai Johannesburg. Secara singkat saja, yang penting sudah menggambarkan fenomena kontemporer pada perancangan kota dan arsitektur saat ini.

Hari sudah makin malam, kue ultah buat Oky dengan gambar-gambar 12 dewa Yunani sudah habis. Malam kain dingin, tapi mojang-mojang masih berseliweran di depan Cinnamon. Namun gelas minuman yang kedua sudah habis. Banyak pekerjaan menanti di kos, termasuk pekerjaan menulis diary ini. J

Sampai ketemu hari Selasa depan di tempat yang sama. Tempat di mana mojang-mojang Priangan berseliweran, menyegarkan mata dan meneduhkan hati. “Where the grass is green and the girls are pretty…

Saint Cinnamon, Cihampelas Walk,

Bersama Oky Kusprianto, Suang, Ismail Reza, Achmad Tardiyana (Apep), Ahmad Rida Soemardi (Tata) dan Widiyani.

2 Responses to “Garing!Bandung#1”

  1. ipuy Says:

    ngga…mau dunks ikyutan garing! bandung ihihih… keep me in touch yeaw… atouw jangan2 udah ada milisnya?

  2. aryo bismayuda Says:

    trus ber’ng’Arsitektur, arsitektur, mBok e kita2 yg pengen gHaul ini diaja’ to le’ hehe suksess!

Leave a Reply