Jakarta Powercell
Jum’at, 21 Oktober 2005
My Project Review #1 – Jakarta Powercell
Competition Project By Apta
Done by Ardzuna Sinaga , Irwin Konstantin , Oky Kusprianto, Peter Ong & Ismail Reza
Jakarta Powercell adalah media dimana pelaku urban dalam aktivitasnya bisa ‘dinikmati’ oleh khalayak. Duduk di kafe, browsing internet bahkan berkeringat dalam ruang fitness menjadi perilaku budaya yang bisa ditonton serta trendy. Sebagai sebuah media, Jakarta Powercell memenuhi kodratnya sebagai wadah : “Architecture create events”. (Ardzuna Sinaga)
Proyek ini baru aja selesai. Masih terasa gak terlalu memuaskan karena ada beberapa konsep arsitektur yang belum terlihat dengan jelas, padahal di awal-awal diskusi banyak ide yang bergulir. Tema proyek Jakarta Powercell di-generate dari ‘battery’, sel pembangkit tenaga yang bisa memberi energi dan kehidupan pada benda yang digerakkannya. Pemikiran awal dari konsep ini kurang lebih sama dengan prinsip kerja batere. Mengingat isu krisis energi yang melanda negeri kita, gue ngerasa diperlukan adanya pemikiran arsitektur yang hemat energi, malah kalau memungkinkan membangkitkan energi. Kebetulan beberapa waktu lalu gue baca artikel tentang tabungan energi India yang diperoleh dari sector agro yaitu tanaman jarak. Konsep seperti ini yang belum diadaptasi oleh negeri kita. India optimis pada tahun 2015 mereka bisa mandiri dari segi energi tanpa mengandalkan BBM, sementara di sini kita masih meributkan arah kompensasi BBM. Satu hal yang sangat ironis, mengingat sejarah negeri ini dan India yang sangat erat dengan kebangkitan bangsa-bangsa Asia-Afrika (dulunya) !
Konsep utama dari proyek ini adalah energi dan hijau. Dengan memanfaatkan energi matahari yang berlimpah, pemanfaatan sirkulasi udara maksimal serta penggunaan air sebagai penjaga suhu, bangunan ini berusaha mandiri. Dari segi urban design, proyek ini berusaha mencetuskan isu open&public space.
Isu-isu urban yang dijadikan urban vision adalah :
-Bangunan sebagai pembangkit energi bagi lingkungan sekitarnya.
Konsep ini terasa sangat optimis, tapi visi untuk menghadapi tantangan krisis energi harus diselesaikan dengan pemikiran yang positif.
-Pemanfaatan lantai dasar sebagai ruang public.
Ini jelas isu urban design kontemporer yang mulai banyak diadaptasi oleh negeri-negeri Asia seperti Hongkong dan Singapore. Penyediaan publik space yang cukup dan manusiawi juga akam me’manusia’penghuni kotaitu sendiri.
-Perencanaan jalur pedestrian yang menerus ke dalam bangunan.
Isu ini juga termasuk ke dalam skenario menjadikan lantai dasar sebagai ruang bagi publik (public domain).
Isu-isu dan tema di atas dikombinasikan dengan kebiasaan gaya hidup kota Jakarta yang serba eksibisionis. Kenikmatan berada di ruang publik seperti mal saat ini adalah dilihat oleh orang banyak. Reza mencetuskan “people watching beautiful people”, gue setuju istilah itu. Budaya tontonan juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup kota sehari-hari. Bahkan melakukan aktivitas di ruang publik akan terasa sangat luar biasa bila kita ‘ditonton’ oleh orang lain. Skenario inilah yang ditunjukkan dengan menempatkan fungsi fitness (Celebrity Fitness) di muka bagunan, menonjol dari fasad dan memakai bahan penutup kaca transparan, dengan maksud supaya aktivitas di dalamnya terlihat jelas dari luar bangunan. Budaya tontonan ini yang gue ekspose.
Dari segi energi, untuk menunjang konsep bangunan sebagai pembangkit energi kita memakai solar cell (photovoltaic) pada sebagian fasad bangunan bagian atas serta sebagian besar atap. Selain itu juga ditempatkan kincir sebagai pembangkit tenaga angina pada atap bangunan bagian belakang yang merupakan lansekap hijau. Nah, salah satu konsep yang menarik dari arsitekturnya adalah perlakuan terhadap fungsi-fungsi yang dianggap sebagai sel-sel batere, berdiri mandiri, masing-masing ditunjang oleh struktur yang mandiri. Pemikiran ini juga membuat ruang dalam bangunan menjadi melompong, dan menjadikan Jakarta Powercell ini tidak terkesan sebagai bangunan besar, tapi kumpulan sel fungsional yang berada dalam satu konstelasi. Satu hal lagi, arsitektur ini diperkuat dengan lansekap di dalam bangunan yaitu di atas masing-masing fungsi yang membuat bangunan terasa hijau dan segar. Oh ya, satu lagi penggunaan air yang diterjunkan dari atas salah satu fungsi bangunan dan disirkulasikan berputar melalui pipa yang menyambung mulai dari kolam di lantai dasar. Pada bangunan British Pavilion (Nicholas Grimshaw) perlakuan ini bisa menurunkan suhu di dalam bangunan sampai 10 derajat. Ini yang coba kita adaptasi.
Hasil akhir dari proyek ini belum ketahuan, tapi memang terus terang saja gue ngerasa produknya belum terlalu matang. Paling nggak beberapa pemikiran bisa diadaptasi di dalam proyek ini. Isu urban design dan tema hemat energi tentu saja menarik untuk terus digulirkan di proyek-proyek berikutnya. Hmmmm,..at least w try…
You wanna try too?



October 22nd, 2005 at 11:16 am
waah kerenn, ini sayembara atau udah jadi bangunannya? boleh tu presentasinya… pengen melu tp malu ilmu ta’ sampai laah