Survey Habitat#1
Minggu, 23 Oktober 2005
Survey Habitat For Humanity Ke Desa Bukatanah, Lembang
Walau melelahkan, hari ini terasa amat menyenangkan. Survey Studio Habitat yang pertama ke desa Bukatanah di Lembang! Satu lagi hari yang menyenangkan bersama para sukarelawan Habitat, seperti hari-hari yang lainnya, melelahkan, tapi menyenangkan karena menyegarkan hati dan paru-paru. Menghirup udara pedesaan yang masih asri dan diwarnai oleh aroma kandang sapi boleh dibilang pengalaman yang menyenangkan buat orang-orang yang sehari-hari tinggal di kota kayak gue. Hmmmmfffff…tariiiiik…hufffffff…buang…..segar!
Tujuan dari survey kali ini adalah mendata kebiasaan dan kebutuhan calon home partners terhadap ruang-ruang di dalam rumah dengan cara mengambil segala data fisik rumah mereka sekarang dan mengamati kebiasaan hidup mereka. Terinspirasi dari buku “Media House Project”, satu lagi buku Spanyol terbitan IaaC+Metapolis. Buku itu bercerita tentang bagaimana satu studi dilakukan untuk merekam data kebiasaan hidup dan menyimpulkannya sebagai suatu kebutuhan penghuni rumah akan ruang-ruang di dalamnya, dengan menganalogikan proses aktivitas sebagai jaringan operasi software computer. Menganalogikan rumah sebagai komputer dan merekam data untuk kemudian diinterpretasikan sebagai data digital. Cara penyajian buku ini benar-benar eye catching, sangat grafis dan documental. Nah, pendekatan inilah yang coba kita adaptasi ke dalam Studio Habitat. Dengan form-form yang gue siapin bareng Peter dan Oky, kita ngerancang supaya data-data yang terekam di lapangan bisa akurat walau sangat grafis dan penuh foto.
Survey berjalan lumayan lancar karena apresiasi calon home partners dan warga desa sangat baik dan terbuka. Malahan kita udah janjian untuk kapan-kapan nginep (kebetulan di ujung desa adalah rumah Erwinthon yang baru) dan bikin acara bareng-bareng warga desa. Hmmm,…buat kami anak-anak kota tentu pengalaman menginap di desa terasa sangat segar dan menantang. Recording data berjalan lancer, para volunteer tampaknya sangat menikmati, begitu juga buat para mentor (Peter, Oky, Paulin, Ebet dan gue). Sayangnya kenikmatan nongkrong di bale-bale depan rumah Bang Erwin terasa kurang karena tidak ada gorengan dan kopi hangat, ini bulan puasa bung! Hehehehehe….
Kurang lebih 4 jam hanyut di suasana desa, begitu kita kembali ke Bandung yang macet dan hujan, semua beban hidup kembali terasa berat. Huffff…Let’s get back to real life, man!
Desa Bukatanah,
Bareng Peter, Oky, Paulin, Ebet, Jappa, Milly, Japra, Adi, Liza, Yurike, Fitri, Nessa&Cai

