Archive for November, 2005

Mi’raj/Mi’raj/Mi’raj

Wednesday, November 2nd, 2005

Rabu, 2 November 2005

Malam ini malam takbiran,

Di televisi bertabur belasan bintang,

Yang ikut meramaikan suasana bertakbir,

Semua lebur di sini,

Apakah kita sudah bisa lebur?

Ikhlas serta dalam arus putaran Ilahi,

Lupakan sejenak segala beban itu,

Segala pekerjaan, proyek dan laporan,

Lupakan sejenak bacaan-bacaan itu, Umberto Eco dan “Bumi Manusia”,

Tinggalkan sejenak semua kesenangan itu, Peter Pan dan Charlene Choi,

Pejamkan matamu sejenak,

Pandanglah Ia dalam cahayaNya,

Bisakah kau melihatNya?

Segumpal cahaya menerangi batin, seberkas sinar menyilaukan mata,

Atau hanya sebentuk mahkota berduri yang menyala,

Bisakah kau melihatNya?

Ah, jikala Ia belum juga terlihat,

Pejamkanlah matamu sekali lagi,

Tinggalkan segala indra tubuh ini,

Pejamlah, pejam,

Bismillah…

This Earth Of Mankind

Tuesday, November 1st, 2005

Rabu, 2 November 2005

Bm_2

Book Review #1 – “Bumi Manusia” (Pramoedya Ananta Toer)

Penerbit Hasta Mitra

In the beginning of all growth, everything is imitated

(“ This Earth Of Mankind”, Pramoedya Ananta Toer, Penguin Publisher)

The most influential book in my life! Gue pertama kali baca buku ini di umur gue yang ke-16. Di usia yang masih seumur jagung itu gue berkenalan dengan perjalanan hidup seorang Minke, di usia yang kurang lebih sama, dalam memperjuangkan hidup dan cintanya. “Bumi Manusia” merupakan salah satu roman sejarah terpenting dalam perjalanan sastra Indonesia. Tidak saja karena ia menceritakan perjalanan hidup dari seorang tokoh pers yang sangat penting (dan terlupakan), pergolakan hidup seorang raden mas menjadi pejuang bangsa dan mengecap julukan simpanan Nyai. Tapi roman ini juga jadi penting karena konsistensi berbahasa dan gaya penuturannya yang luar biasa kuat. Sebagai buku pertama dari serial kuartet (kwartenarius) terpenting karya Pramoedya, roman ini menjadi titik awal dari penggambaran seorang pribumi jawa, tepatnya priyayi, yang menentang ke-priyayi-annya sendiri, melawan kekejaman dunia kolonial Hindia-Belanda di awal abad 20. Dan ternyata ia tidak berdaya tanpa gelar feodalnya itu. Titik awal perjalanan seorang pejuang yang menjadi sadar bahwa berjuang lewat pena sama berharganya dengan mengangkat bedil.

Roman ini sangat menginspirasi, tidak hanya bagi penulis dan jurnalis, tapi juga bagi seorang Ardzuna Sinaga, gue sendiri, untuk punya jiwa sosial(is) dan membela. Jauh sejak kisah hidup itu mulai dilakoni, hampir se-abad  kemudian, di usia yang sama dengan sang tokoh, Raden Mas Minke, ternyata gue belum bisa membuat negeri jadi lebih baik, tidak setitik pun. Perjuangan pribumi jawa yang harus rela dikatai “monyet” oleh bangsa kekasihnya sendiri, mempertahankan cintanya pada gadis Indo berayah Belanda yang konon titisan putri belanda, tidak bisa disangkal membangkitkan romantisme patriotik pada jiwa pemuda-pemuda yang sedang mencinta. Tidak sekedar berperang melawan satu keluarga dengan mengangkat pistol (seperti yang digambarkan Baz Luhrman) layaknya Romeo melawan Montague (or Capulet? I forgot…hehehehe), tapi malahan berperang dengan mulut dan kata-kata mempertahankan harga diri dan hak miliknya melawan penindasan budaya (yang bahkan dilakukan oleh ayahandanya sendiri) dan tekanan sosial dari kondisi pada saat itu. Sepenggal perjuangan hidup pemuda di usia seumur jagung. Juga seperti kisah Romeo-Juliet yang berakhir tragis, roman ini tetap meletakkan landasan ceritanya pada moral : berjuang! Tidak seperti Romeo yang minum racun demi menyusul kematian sang kekasih (yang ternyata belum mati, how silly…), sang raden mas, dalam kepedihan dan kepiluannya dihibur oleh ibunda sang kekasih dengan kata-kata :

“Kita telah berjuang, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”.

Buku ini layak dibaca oleh semua kalangan, terutama pemuda yang konon katanya adalah harapan bangsa. Tetap memikat dan menggoda untuk terus dibaca, walau tanpa eksploitasi seksual berlebihan, satu kekuatan yang dimiliki Pram dibanding para pujangga seangkatannya. Walau (sempat) dilarang oleh pihak berkuasa, dan dikatakan bahwa Pram adalah tirani sastra yang ‘membunuh’ banyak pujangga di jamannya, di luar segala sepak terjang politik pengarangnya sendiri, “Bumi Manusia” telah menjadi satu karya terpenting yang terukir dalam di khasanah sastra Indonesia. Jauh dari perangkap manis kisah-kisah cinta picisan ala chicklit masa kini, pembaca “Bumi Manusia” niscaya tidak akan pernah lupa hubungan ala platonik antara seorang pribumi jawa dengan Annelies seorang gadis Indo ber’kecantikan kreol’.

Public Space = Vacant Land + Commercial, Is it –> Public Space = Economic Space?

Tuesday, November 1st, 2005

Minggu, 30 Oktober 2005

City Reading#2 – Kepatihan (lagi..)

Jalan di mana terletak Toserba Yogya-Griya dan Pusat Perbelanjaan Kings

Kepatihan2a

Hari ini gue jalan-jalan ke Kota Kembang di Dalem Kaum. Seperti biasa, kegiatan rutin sebelum liburan, cari film dan cd yang banyak. Hehehe..Dan seperti biasa gue jalan kaki dari terminal Kebon Kelapa, sepanjang jalan Kepatihan, lewati Kings dan Yogya, trus nembus ke Dalem Kaum. Yang tidak biasa, hari ini jalan-jalan dan semua koridor toko sepanjang jalan ini penuh sesak! Kayaknya semua orang punya ide yang sama dengan gue, atau mereka sekalian belanja Lebaran. Hmm…Jalan kaki di sepanjang jalan yang penuh sesak itu, sesak dengan orang yang berjalan dan puluhan pedagang kaki lima yang memanfaatkan kesempatan untuk menangguk keuntungan. Pelan-pelan, dengan kamera digital di tangan, gue beringsut-ingsut berdesakan diantara orang-orang, sambil berusaha mengingat-ingat, beberapa minggu lalu, jalan Kepatihan ini bersih dari pedagang kakilima, terasa melegakan karena kita bisa menikmati jalur pedestrian (sebagai representasi ruang publik paling minimal) dengan nyaman. Namun, ternyata ada yang tidak nyaman karena tidak boleh berjualan di situ.

Sekarang, 5 hari menjelang lebaran, dorongan ekonomi yang mendesak tidak mampu ditolak bahkan oleh para petugas tramtib. Puluhan pedagang kakilima memenuhi kedua sisi jalan, mulai dari berjualan sandal, asesoris, pin, tas, sampai gorengan dan minuman segar dingin (Sosro tentunya!) di siang hari di bulan puasa ini bertebaran. ‘Keleran’ kalo istilahnya Irwin dan Pak Apep. Sambil terus berjalan beringsut-ingsut di antara tubuh-tubuh wangi dan berkeringat, gue lagi-lagi berpikir keras, apakah memang perwujudan public space yang sebenarnya adalah ruang ekonomi? Apakah memang setiap setiap jengkal dari ruang kosong di negeri ini harus dimanfaatkan demi meraih keuntungan? Apakah memang baru sebatas itu apresiasi kita terhadap ruang publik yang ada? Ataukah memang itu ciri khas budaya berdagang kita yang ditularkan oleh orang Arab dan etnis Tionghoa sejak beribu tahun yang lalu? Atau gejala apakah ini? Berpuluh pertanyaan bermunculan dalam kepala, sambil terus berusaha menerobos di antara kerumunan orang, mencoba memotong jalan lewat Kings. Hup, gue melompat ke dalam Kings yang ber-AC. Lumayan menyegarkan dan memintas jalan menuju Dalem Kaum. Tapi kenapa di dalam sini terasa lengang dan sepi? Hmm,..gejala apa lagi ini? Kenapa di luar sana orang berdesak-desakan demi membeli atau sekedar melihat-lihat barang dagangan di pinggir jalan, jauh dari keselamatan, sementara di dalam sini, di ruang berdagang yang sebenarnya, sepi pengunjung dan pembeli? Apakah ini berkaitan dengan melemahnya daya beli? Atau jangan-jangan memang tantangan dari bertawar-tawaran barang di pinggir jalan jauh lebih menggoda dibanding bertransaksi di ruang ber-AC? Ah,…kenapa otak gue gak berhenti bertanya…

Kota Kembang yang pusat penjualan film (DVD dan VCD serta CD) bajakan terbesar di Bandung juga penuh sesak. Bayangkan, ada lorong selebar cuma satu meter masih dimanfaatkan sebagai etalase pamer, alhasil, lebar lorong tinggal bersisa 60 senti! Untuk lewat 2 orang, berpapasan, sambil bermanuver miring-miring. Dan lagi-lagi ruang ini penuh sesak. Ah, kenapa orang-orang ini tidak lebih suka pergi ke toko Vertex (di Jalan Ambon) yang ber-AC dan punya barang yang sama! Lho, trus, kenapa gue ada di sini? Rasanya pertanyaan gue tadi mesti gue jawab dulu sendiri. Kenapa ya? Hmm,..gue bisa beralasan bahwa gue emang seneng suasana Kota Kembang yang berdesak-desakan, atau gue emang mau mengalami sendiri pengalaman urban yang sensasional, berbau keringat dan panas, memancing sekian banyak pertanyaan dalam kepala, sengaja mengalami petualangan menegangkan dari waswasnya pembeli di sini akan adanya razia. Atau emang gue tertarik iming-iming mendapatkan cakram DVD dengan harga 4000 perak? Ah, mungkin semua alasan itu benar. Buktinya, gue berkali-kali dan berkali-kali lagi balik ke sini, seolah-olah tanpa pengalaman bahwa di sini sesak dan penuh serta bau berbagai macam aroma. Padahal gue pernah datang ke sini trus ada razia, panik dan chaos, lalu lari kabur lewat pintu belakang. Nah!

“Economy is the most powerful driving force to architecture.” (Rem Koolhas)

Kepatihan2b

Ketersediaan ruang publik tentu akan dimanfaatkan oleh masyarakat sesuai dengan intensi atau hasrat kebutuhan paling dasarnya! DI negeri kita yang carut-marut ini, hasrat kebutuhan dasar adalah ekonomi, duit, duit dan duit! Mungkin itu yang membuat setiap jengkal ruang publik lalu termanfaatkan secara ekonomi, atau diberi harga dengan cara hukum rimba. Pernah terpikir bagaimana bahu jalan yang ditangkringi angkot lalu dijadikan ruang usaha oleh para preman calo penarik penumpang? Bahkan, bahu jalan yang lebarnya cuma sekianpuluh senti itu bisa jadi ruang ekonomi! Betapa survive-nya para pelaku ekonomi di negeri ini. Bukankah itu sangat mencengangkan?

Pada saat ekonomi negeri ini didominasi oleh jutaan pedagang kaki lima, pedagang eceran dan industri rumahan, apakah masuk akal pembangunan ruang retail (mewah) ber-AC yang terujud dalam puluhan bentuk arsitektur mal dan superblok? Hmm..satu pertanyaan lagi yang mungkin berat untuk dijawab. Apakah berarti selamanya penggunaan ruang publik di negeri miskin tapi jumlah pemilik Ferrari-nya terbanyak di Asia Pasifik ini akan selalu dilihat dari sisi ekonomi semata? Kapan kita punya kesempatan untuk menikmati keberadaan ruang publik dari segi kualitasnya, minimal bermesraan dengan kekasih kita seperti yang Irwin ceritakan soal Singapore? Apakah memang sejauh itu jarak peradaban budaya kita dengan negeri tetangga terdekat yang konon tanahnya dibentuk dari tanah negara kita itu? Hmm,..mungkin pernyataan-pertanyaan di atas terlalu melebih-lebihkan. Mungkin juga gue yang terlalu banyak berpikir. Gue berjalan pelan, masih beringsut-ingsut menjauhi Kota Kembang, matahari sudah condong di Barat, sementara aroma makanan dari tenda-tenda pinggir jalan mulai menggoda di waktu yang sedikit lagi Maghrib ini. Kaki terasa lemas juga, mungkin akibat terlalu banyak pertanyaan di dalam kepala?