This Earth Of Mankind
Rabu, 2 November 2005
Book Review #1 – “Bumi Manusia” (Pramoedya Ananta Toer)
Penerbit Hasta Mitra
In the beginning of all growth, everything is imitated
(“ This Earth Of Mankind”, Pramoedya Ananta Toer, Penguin Publisher)
The most influential book in my life! Gue pertama kali baca buku ini di umur gue yang ke-16. Di usia yang masih seumur jagung itu gue berkenalan dengan perjalanan hidup seorang Minke, di usia yang kurang lebih sama, dalam memperjuangkan hidup dan cintanya. “Bumi Manusia” merupakan salah satu roman sejarah terpenting dalam perjalanan sastra Indonesia. Tidak saja karena ia menceritakan perjalanan hidup dari seorang tokoh pers yang sangat penting (dan terlupakan), pergolakan hidup seorang raden mas menjadi pejuang bangsa dan mengecap julukan simpanan Nyai. Tapi roman ini juga jadi penting karena konsistensi berbahasa dan gaya penuturannya yang luar biasa kuat. Sebagai buku pertama dari serial kuartet (kwartenarius) terpenting karya Pramoedya, roman ini menjadi titik awal dari penggambaran seorang pribumi jawa, tepatnya priyayi, yang menentang ke-priyayi-annya sendiri, melawan kekejaman dunia kolonial Hindia-Belanda di awal abad 20. Dan ternyata ia tidak berdaya tanpa gelar feodalnya itu. Titik awal perjalanan seorang pejuang yang menjadi sadar bahwa berjuang lewat pena sama berharganya dengan mengangkat bedil.
Roman ini sangat menginspirasi, tidak hanya bagi penulis dan jurnalis, tapi juga bagi seorang Ardzuna Sinaga, gue sendiri, untuk punya jiwa sosial(is) dan membela. Jauh sejak kisah hidup itu mulai dilakoni, hampir se-abad kemudian, di usia yang sama dengan sang tokoh, Raden Mas Minke, ternyata gue belum bisa membuat negeri jadi lebih baik, tidak setitik pun. Perjuangan pribumi jawa yang harus rela dikatai “monyet” oleh bangsa kekasihnya sendiri, mempertahankan cintanya pada gadis Indo berayah Belanda yang konon titisan putri belanda, tidak bisa disangkal membangkitkan romantisme patriotik pada jiwa pemuda-pemuda yang sedang mencinta. Tidak sekedar berperang melawan satu keluarga dengan mengangkat pistol (seperti yang digambarkan Baz Luhrman) layaknya Romeo melawan Montague (or Capulet? I forgot…hehehehe), tapi malahan berperang dengan mulut dan kata-kata mempertahankan harga diri dan hak miliknya melawan penindasan budaya (yang bahkan dilakukan oleh ayahandanya sendiri) dan tekanan sosial dari kondisi pada saat itu. Sepenggal perjuangan hidup pemuda di usia seumur jagung. Juga seperti kisah Romeo-Juliet yang berakhir tragis, roman ini tetap meletakkan landasan ceritanya pada moral : berjuang! Tidak seperti Romeo yang minum racun demi menyusul kematian sang kekasih (yang ternyata belum mati, how silly…), sang raden mas, dalam kepedihan dan kepiluannya dihibur oleh ibunda sang kekasih dengan kata-kata :
“Kita telah berjuang, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”.
Buku ini layak dibaca oleh semua kalangan, terutama pemuda yang konon katanya adalah harapan bangsa. Tetap memikat dan menggoda untuk terus dibaca, walau tanpa eksploitasi seksual berlebihan, satu kekuatan yang dimiliki Pram dibanding para pujangga seangkatannya. Walau (sempat) dilarang oleh pihak berkuasa, dan dikatakan bahwa Pram adalah tirani sastra yang ‘membunuh’ banyak pujangga di jamannya, di luar segala sepak terjang politik pengarangnya sendiri, “Bumi Manusia” telah menjadi satu karya terpenting yang terukir dalam di khasanah sastra Indonesia. Jauh dari perangkap manis kisah-kisah cinta picisan ala chicklit masa kini, pembaca “Bumi Manusia” niscaya tidak akan pernah lupa hubungan ala platonik antara seorang pribumi jawa dengan Annelies seorang gadis Indo ber’kecantikan kreol’.
