Archive for January, 2006

Ruang Publik Sebagai Tengaran Sosial, Punyakah Kita?

Monday, January 9th, 2006

Edited and Published in Loma Bandung Magazine, 1st Edition

Kota Bandung saat ini memiliki jembatan layang  yang menjadi tengaran (landmark) sekaligus kebanggaan Kota Bandung. Jembatan layang yang mulai dibangun tahun 1999 dan selesai pada tahun 2005 ini sempat mengalami penundaan konstruksi, namun akhirnya selesai dan berdiri pada bulan Mei 2005.

                

Sebagai jembatan layang yang menjadi bagian dari pembangunan sarana transportasi Kota Bandung, jembatan layang Pasupati ini sejak awal perencanaannya mengalami banyak pro-kontra. Mulai dari bentuk jembatan yang waktu itu dianggap terlalu extravagant, cerita tentang penebangan pohon di sepanjang pinggir jalan Surapati sampai jalan Pasteur sampai pada kisah pembebasan tanah yang akan dilewati jembatan itu sendiri. Konstruksi jembatan yang dikabarkan sebagai konstruksi jembatan terbaru di Indonesia (menggunakan sistem konstruksi kabel yang ditegangkan) sekaligus juga memiliki makna filosofis yaitu melambangkan bentuk alat musik khas tradisional Jawa Barat/Sunda yaitu kecapi dan suling. Setelah melewati sekian banyak kisah dan cerita yang tidak semuanya menyenangkan, tentunya terbit banyak pengharapan positif dari terlaksananya jembatan ini sebagai jembatan layang pertama di Kota Bandung.

Tengaran (Landmark) adalah obyek yang dijadikan sebagai patokan untuk menandakan suatu daerah atau kawasan. Tengaran ini seringkali dikaitkan dengan arsitektur bangunan, tugu atau monument dan juga patung atau karya seni besar yang bersifat publik. Tengaran juga seringkali diasosiasikan dengan kawasan atau kota dimana obyek itu berada. Seperti Bandung yang terkenal dengan Gedung Sate-nya atau Jakarta yang terkenal dengan Monas. Pemaknaan tengaran sebagai tanda satu kawasan juga bisa dilakukan demi kepentingan politis atau pemerintahan, seperti pembangunan Monumen Bandung Lautan Api di Jalan Dipati Ukur yang mempunyai sumbu lurus dengan Gedung Sate. Penciptaan tengaran-tengaran seperti ini memang dilakukan untuk memaknai arti penting pihak penguasa atau pengelola kota terhadap kotanya sendiri. Di Kota Bandung terdapat beberapa tengaran yang ditasbihkan dengan cara ini, seperti juga misalnya Alun-Alun Bandung di muka Masjid Agung. Namun, karena tujuan awalnya adalah demi kepentingan pengelola kota semata, seringkali fungsi publik dari tengaran-tengaran seperti ini tidak bermanfaat secara optimal. Seperti misalnya fungsi publik dari Monumen Bandung  Lautan Api yang seharusnya sebagai taman publik malah tidak bisa diakses dan digunakan oleh masyarakat karena diberi pagar. Berlawanan dengan itu, masyarakat sendiri sepertinya malah sudah mampu mengapresiasi ruang publik dan secara tidak langsung bersepakat menjadikan beberapa area atau ruang publik sebagai tengaran yang lebih bersifat sosial. Penggunaan ruang-ruang terbuka secara aktif juga dapat diartikan sebagai satu usaha untuk menjadikannya sebagai tengaran.

Satu fenomena yang menarik dari Jembatan Layang Pasupati adalah kegiatan informal yang dilakukan oleh masyarakat di tepi jembatan tepat di sisi struktur besar kecapi suling persis di atas Kebon Bibit. Saat pertama kali dibuka sebelum diresmikan, masyarakat berbondong-bondong mendatangi jembatan ini, digunakan sebagai area jogging atau lari pagi, juga sekedar sebagai tempat untuk memandang suasana kota dari atasnya. Pemaknaan ruang di sisi jalan (yang ditujukan sebagai bahu jalan dan bukan untuk digunakan oleh pejalan kaki) oleh masyarakat Bandung tentu menjadi hal yang menarik dan menyenangkan untuk dilakukan. Bahkan saat itu , dimana jembatan belum bias dimasuki oleh kendaran bermotor, jembatan ini dimanfaatkan sebagai jalan memintas dari daerah Pasteur menuju Lapangan Gasibu Bandung oleh para pejalan kaki dan tukang jualan pikulan atau gerobak. Keriaan masyarakat saat menggunakan jembatan itu seolah-olah dapat menghapuskan segala sentiment negatif yang terus bermunculan pada saat perencanaan maupun konstruksinya dilakukan.   Dialog-dialog seperti “Kepingin nyobain jalan layang, euy” atau “Wah, dari sini bisa keliatan rumah kita lho, bu” menambah antusiasme dan keriaan suasana. Pemandangan Kota Bandung dari atas yang selama ini menjadi kemewahan yang hanya bisa dicapai dengan mendatangi restoran-restoran di Dago Pakar seolah-olah sejenak menjadi milik bersama seluruh masyarakat. Pada saat itulah (sejenak) masyarakat mentahbiskan jembatan ini sebagai tengaran sosial, yaitu tengaran yang menjadi kesepakatan bersama untuk menjadi identitas atau pengarah satu kawasan.

Aktivitas-aktivitas yang masih sering dilakukan di pinggir Jembatan Layang Pasupati ini menandakan akan kerinduan masyarakat akan ruang terbuka publik yang sehat, nyaman dan bisa dipakai sebagai ruang mengapresiasi kondisi kotanya sendiri. Memandang ke arah lembah Cihampelas di kala matahari terbenam tentu akan menjadi satu kemewahan yang sekaligus nostalgik bagi pasangan-pasangan yang sedang bercinta. Kerinduan dan kehausan akan ruang-ruang seperti itu tampaknya memang belum bisa sepenuhnya terpenuhi oleh kota kita tercinta ini. Sejak tahun lalu kota kita memang akhirnya memiliki ruang komersial terbuka yang bisa dimanfaatkan sebagai ruang publik dengan dibukanya Cihampelas Walk, namun, walau bagaimanapun ruang-ruang yang tercipta adalah ruang-ruang semi komersial, dimana ruang terbuka yang tercipta diapit oleh toko-toko dan restoran-restoran dengan harga tertentu demi kepentingan komersial. Ruang-ruang ini tentu belum bisa dianggap sebagai ruang publik yang sepenuhnya. Bila kita tengok sedikit pada kondisi di luar negeri yang kaya akan ruang publik, sering kali kita merasa iri. Piazza San Marco di Venice, Central Park di New York atau Park De La Vilette di Paris adalah contoh dari beberapa taman dan ruang terbuka yang bisa memuaskan dahaga warga kotanya akan ruang aktivitas di udara terbuka. Sedikit lebih dekat lagi, di Singapore para wisatawan dari Indonesia seringkali terpesona oleh suasana plaza di Restoran Chijmes atau tempat duduk dengan meja caturnya di jembatan Old Chinatown. Seorang rekan arsitek yang baru saja pulang dari Singapore cerita panjang lebar tentang bagaimana kota itu penuh dengan ruang-ruang publik yang bisa diakses sepenuhnya oleh warga kota, serta bagaimana irinya dia melihat pasangan-pasangan berpacaran di jembatan di sisi Gedung Esplanade tanpa merasa harus membeli sesuatu atau membayar tiket. Ruang-ruang publik serupa yang sering kita temukan saat menonton drama-drama serial dari Korea di layar kaca. Ruang-ruang dimana aktivitas dan kegiatan masyarakat bisa dilakukan secara bebas, tidak ada tuntutan ekonomi dan menjadikan ruang kota sebagai sarana hiburan yang sehat.

Jembatan Layang Pasupati sebagai sarana transportasi vital Kota Bandung sebenarnya bisa menjadi tengaran bagi seluruh masyarakat kota, tidak hanya bagi pengendara mobil dan motor, terlebih lagi bila ada sisi-sisi dari jembatan yang bisa dipakai sebagai tempat nongkrong. Sudah saatnya kota kita bisa mewadahi kebutuhan nongkrong dan kongkow-kongkow yang tidak mengeluarkan banyak biaya tapi masih terasa sehat dan menyenangkan. Kondisi saat ini dimana banyak orang yang duduk-duduk atau berdiri-berdiri di sisi jembatan bisa dianggap membahayakan adalah hal yang lumrah, karena memang secara fungsional kegiatan itu dapat membahayakan nyawa mereka sendiri atau bahkan mengganggu lalu lintas kendaraan di sampingnya. Namun kerinduan masyarakat akan ruang publik serta potensi jembatan layang ini untuk menjadi tempat nongkrong seharusnya bisa menghasilkan sinergi yang akomodatif terhadap semua lapisan masyarakat. Berkaca dari pengalaman ini, alangkah baiknya apabila masyarakat bisa dilibatkan pada perencanaan-perencanaan berskala publik dan melibatkan kepentingan masyarakat sendiri. Tengaran sebagai ruang publik berarti menciptakan wadah-wadah aktivitas baru. Ruang publik sebagai wadah aktivitas yang sehat dan tidak mahal berarti meningkatkan apresiasi warga kota terhadap kotanya sendiri. Kota Bandung jelas memilik banyak tengaran dan ruang publik, salah satunya adalah Jembatan Layang Pasupati, namun tengaran dan ruang publik yang bisa menjadi wadah aktivitas sosial yang sehat, punyakah kita?

Bandung Metropolization : A Transition in Urban Identity

Monday, January 9th, 2006

An Abstract, Translated By Anissa Sukmawati Febrina

Bandung, a hilly city of more than 700 meters above sea level was not only famous as West Java’s — the third largest province in Java — capital city. Previously known as a breezy getaway city developed in radial concentric pattern, Bandung has now grown to be a creative hub that becomes the benchmark of musical and fashion trends in Indonesia. Weekends in

Bandung are days filled with youngsters throwing festivities. These phenomena have attracted local tourists to spend their holidays in the city, making it now a central for tourism with a spark of creativity.

In the post millennium era, Bandung’s development led to a tendency towards making it a metropolist. Mall and trade center projects have been current development options since it is considered a highly potential magnet for tourists. The current fact is that the needs of those tourists could be satiated by luxurious giant malls and trade centers. Nevertheless, it did bring more people coming to the city, triggering its prevailing traffic woes. At this point, Bandung seems to need the infrastructure required by a metropolist, the kind of need that has never been thought of when it originally developed as a resort city.

Pasupati flyover project seemed to have marked the new beginning of Bandung’s path towards being a metropolist. An enormous change occurred, led by the destruction of the city’s environment – the cutting off of trees along Surapati and Pasteur — needed to provide space for the flyover. Furthermore, there was not enough space provided between the highway and housing complexes nearby, ruining the balance of the city’s life. The creative city has been forced to turn into a metropolist.

With such development tendency, there is a possibility that

Bandung will suffer from a super-modern development concept. Can it maintain its original distinctly creative identity?

Is metropolizing a must? Or is it just part of the shifting process of the so-called third world to be integrated in the global capitalism?

Developing a city within its context is an unquestionable idealism, but its realization needs a well-cooperated community, the city administration and urban designers. At the end, what can we really do?

Tuesday, January 3rd, 2006

Rabu, 4 Januari 2006

03.47

What happen to me?

Is It a Silly Question?

Sunday, January 1st, 2006

Minggu, 1 Januari 2006

16.43

Do you like her for her popularity? Or truly for her honesty?

Did you want her because of her reputation? Or truly for her kindness?

Do you love her just to get a trophy? Or really to make her happy?

Can I answer that question? What kind of silly question is that? Anehkah, ketika pertama kali memandang wajahnya, yang terbayang adalah lenggak-lenggoknya di atas panggung, suara merdunya di cakram rekaman, atau pose-posenya di majalah wanita? Bukankah cinta datang dari setiap penjuru, dengan segala caranya? Dosakah kita bila mencintai karena ‘dia’ terkenal? Atau karena prestasinya tinggi? Lalu gimana kalau tiba-tiba kita sedang jalan-jalan di Kowloon tiba-tiba bertemu pandang dengan Gillian Chung, misalnya? Lalu saling jatuh cinta. Salahkah? Mungkin pertanyaannya bukan itu, tapi lebih tepat, mungkinkah? Hahahahahaha… Ups, let’s get back to the topic. About Gillian Chung, ..no no,..it’s not that.

Sekali waktu, teman gue pernah bilang, “gak usah mencari-cari cinta, yang penting kerja keras aja, ntar juga kalo kita udah kaya dan terkenal cewe-cewe pasti nyamperin..”. Logis. Masuk akal. Kenapa gak? Bukankah itu nilai lebih yang kita punya?

Setelah kerja keras yang melambungkan nama dan menggemukkan kantong, bukankah pasti ada ribuan (gak juga sih, ratusan, atau belasan tepatnya, atau beberapa lah..) wanita yang mengantri untuk kita? Yup, belum lagi kalau dihitung dengan ribuan (ah, terlalu membesar-besarkan, beberapa lah..) ibu-ibu yang anak gadisnya sudah di usia siap dipinang dan ingin punya menantu terkenal, kaya dan (kelihatan) ganteng (karena propertinya). It is right, isn’t it? Money can buy you anything. Yup, memangnya karena apa tokoh wayang Arjuna yang konon terkenal ganteng dan sakti mandraguna bisa punya istri ratusan? Tentu karena kerja keras (belajar sakti mandraguna) dan kebetulan parasnya ganteng dan dia adalah adik Prabu Yudhistira pewaris tahta Astina. Apakah itu adil? Tentu. Tidak ada yang salah dalam mendapatkan cinta, bahkan dengan uang sekalipun. Is it?

Ada lagi temen gue yang lain bilang:”If you just want to impressed a girl you like so much, then there’s no true love for you”. Deg. Mengagetkan. Apa iya? Kan gue berusaha mati-matian menyenangkan ‘dia’ bukan cuma demi impresi semata.

“Iya, emang sih, tapi yang keliatan tu gitu”. Lho, terus gimana?

“Cobalah untuk mencinta dengan tulus, jangan terlalu memaksa, jangan berlebihan, biarkan dia bahagia terbang dengan sayapnya, pastikan kalo loe ada di sisinya saat sayapnya patah”. Kalo sayapnya gak pernah patah?

“Pastikan dia bisa terbang lebih tinggi, dukung dia dengan-paling tidak-senyuman dan tatapan mata percaya”. Is that it?

Lalu kemana semua kerja keras dan hasilnya itu? Buat apa kita mati-matian mencapai ketenaran dan  kekayaan kalau hanya dengan begitu kita bisa meraih hati ‘dia’? Ah, benarkah ‘hanya dengan itu’? Gue pernah, berulang kali dan masih terus berusaha. ‘Hanya dengan itu’ bukan sesuatu yang mudah. Jauh lebih mudah membuatnya terkesan dengan segala prestasi dan segala yang kita raih dengan kerja keras. Shania Twain juga pernah bilang : “So, you’re Brad Pitt? Rocket scientists? It don’t impress me much”. Is it?

Kalau sekarang gue ditanya, kenapa lo suka, sayang, cinta ama dia? Gue gak bisa jawab. Why do you love her? Just because. Itu jawabnya. I just feel it, feel it right. Is it acceptable? Atau gue harus kasih alasan yang panjang dan berbelit-belit, cuma untuk menenangkan perasaannya? Ah, apakah benar ‘dia’ tenang kalau tahu semua alasan gue mencintai’nya’? Cinta sesuatu yang rumit. Dia bisa bagai kilat menyambar di siang hari, begitu saja. Atau tumbuh pelan-pelan karena terbiasa. Atau berbalik dari benci menjadi cinta. Apa ada rumus kimia yang bisa menerangkannya? Apakah memang ada prasyarat buat mencinta atau dicinta? Ada satu cerita menggelikan (sekaligus mengharukan) dari temen gue tentang cerita gimana dahulu kedua orangtuanya saling setuju untuk menikah dan hidup bersama (dan tentu mencinta selama hidupnya). Konon, kedua orang itu baru saling kenal, tidak lebih dari 2 bulan, lalu sang perjaka kontan melamar si gadis di hadapan orangtuanya, dan ketika orang tua (si gadis) bertanya apa yang membuat sang perjaka berani (cenderung nekad) melamar? Jawabnya sederhana : “Abdi tos teu kiat..”. Jawaban polos yang tidak rasional atau romantis sama sekali. Lalu apa yang membuat si gadis mau menerima (tentu diterima, karena anaknya yang belakangan cerita sama gue) pinangan perjaka polos (atau bodoh) itu? Karena si gadis yakin. Saat perkenalan yang cuma sesaat (kurang dari dua bulan, bandingkan dengan pacaran generasi kita sekarang yang bisa sampai 5 tahun dan tidak nikah-nikah juga!) tidak menghalangi perasaan dan intuisi si gadis untuk mengenali bahwa memang si perjaka lah jodohnya. Just feels right! Ha, pasti loe semua bertanya-tanya, apa si perjaka itu waktu itu sudah kaya atau terkenal atau punya kelebihan fisik luar biasa? Tidak! Sedikit pun tidak. Apa mereka berdua menyesal? Tidak tahu, yang jelas sekarang mereka bisa membina keluarga bahagia, rukun dan tentram. Is it marvelous?

 

So, what’s the point of babbling blah blah blah? Setiap orang punya cara mencinta. Tidak ada yang salah, tidak ada yang manipulatif, tidak ada yang curang, bahkan tidak ada yang benar. Yang ada hanya cocok atau tidak. Memilih cara untuk mendekatinya dan mencintainya adalah jalan untuk meraih hatinya, bukan sekedar strategi untuk memenangkan perang. It’s not a war between you and her or you and him. A war only exists in your head, is it to win a trophy and feel proud or make yourself as a part of her/his happiness. So, there’s no winner or loser. If I do feel like a loser, it’s because I intend to win the war against her from the first time. And since it’s a play, there’s no pure love in it. Is it?

Ari Lasso once said : “Touch her by heart, she will be yours forever”. I believe that. For the love of my (rest) life, I just wanna sit near to you, looking deep into your eyes, holding your hands, flying with your soul, and say : I’m here for you.

“Kupu-Kupu Malam”

Sunday, January 1st, 2006

Minggu, 1 Januari 2006

16.34

“Kupu-Kupu Malam”

Ada yang benci dirinya/Ada yang butuh dirinya/Ada yang berlutut mencintanya/Ada pula yang kejam menyiksa dirinya/Ini hidup wanita si kupu-kupu malam/Bekerja bertaruh jiwa raga/Bibir senyum kata halus merayu memanja/Kepada setiap mereka yang datang/Dosakah yang dia kerjakan?/Sucikah mereka yang datang?/Kadang dia tersenyum dalam tangis/Kadang dia menangis di dalam senyuman/Apa yang terjadi, terjadilah/Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya/Apa yang terjadi, terjadilah/Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

It’s New Year

Sunday, January 1st, 2006

It’s a new year. So what’s the different? People said with the coming of new year, there’s came a new hope, new chance. I believe that new hope always come everyday, every second of our life, in every heartbeat. I believe that we’re all fight to the world through pray, hard work and love. Everyday, over and over.

So what’s the different?