Is It a Silly Question?

Minggu, 1 Januari 2006

16.43

Do you like her for her popularity? Or truly for her honesty?

Did you want her because of her reputation? Or truly for her kindness?

Do you love her just to get a trophy? Or really to make her happy?

Can I answer that question? What kind of silly question is that? Anehkah, ketika pertama kali memandang wajahnya, yang terbayang adalah lenggak-lenggoknya di atas panggung, suara merdunya di cakram rekaman, atau pose-posenya di majalah wanita? Bukankah cinta datang dari setiap penjuru, dengan segala caranya? Dosakah kita bila mencintai karena ‘dia’ terkenal? Atau karena prestasinya tinggi? Lalu gimana kalau tiba-tiba kita sedang jalan-jalan di Kowloon tiba-tiba bertemu pandang dengan Gillian Chung, misalnya? Lalu saling jatuh cinta. Salahkah? Mungkin pertanyaannya bukan itu, tapi lebih tepat, mungkinkah? Hahahahahaha… Ups, let’s get back to the topic. About Gillian Chung, ..no no,..it’s not that.

Sekali waktu, teman gue pernah bilang, “gak usah mencari-cari cinta, yang penting kerja keras aja, ntar juga kalo kita udah kaya dan terkenal cewe-cewe pasti nyamperin..”. Logis. Masuk akal. Kenapa gak? Bukankah itu nilai lebih yang kita punya?

Setelah kerja keras yang melambungkan nama dan menggemukkan kantong, bukankah pasti ada ribuan (gak juga sih, ratusan, atau belasan tepatnya, atau beberapa lah..) wanita yang mengantri untuk kita? Yup, belum lagi kalau dihitung dengan ribuan (ah, terlalu membesar-besarkan, beberapa lah..) ibu-ibu yang anak gadisnya sudah di usia siap dipinang dan ingin punya menantu terkenal, kaya dan (kelihatan) ganteng (karena propertinya). It is right, isn’t it? Money can buy you anything. Yup, memangnya karena apa tokoh wayang Arjuna yang konon terkenal ganteng dan sakti mandraguna bisa punya istri ratusan? Tentu karena kerja keras (belajar sakti mandraguna) dan kebetulan parasnya ganteng dan dia adalah adik Prabu Yudhistira pewaris tahta Astina. Apakah itu adil? Tentu. Tidak ada yang salah dalam mendapatkan cinta, bahkan dengan uang sekalipun. Is it?

Ada lagi temen gue yang lain bilang:”If you just want to impressed a girl you like so much, then there’s no true love for you”. Deg. Mengagetkan. Apa iya? Kan gue berusaha mati-matian menyenangkan ‘dia’ bukan cuma demi impresi semata.

“Iya, emang sih, tapi yang keliatan tu gitu”. Lho, terus gimana?

“Cobalah untuk mencinta dengan tulus, jangan terlalu memaksa, jangan berlebihan, biarkan dia bahagia terbang dengan sayapnya, pastikan kalo loe ada di sisinya saat sayapnya patah”. Kalo sayapnya gak pernah patah?

“Pastikan dia bisa terbang lebih tinggi, dukung dia dengan-paling tidak-senyuman dan tatapan mata percaya”. Is that it?

Lalu kemana semua kerja keras dan hasilnya itu? Buat apa kita mati-matian mencapai ketenaran dan  kekayaan kalau hanya dengan begitu kita bisa meraih hati ‘dia’? Ah, benarkah ‘hanya dengan itu’? Gue pernah, berulang kali dan masih terus berusaha. ‘Hanya dengan itu’ bukan sesuatu yang mudah. Jauh lebih mudah membuatnya terkesan dengan segala prestasi dan segala yang kita raih dengan kerja keras. Shania Twain juga pernah bilang : “So, you’re Brad Pitt? Rocket scientists? It don’t impress me much”. Is it?

Kalau sekarang gue ditanya, kenapa lo suka, sayang, cinta ama dia? Gue gak bisa jawab. Why do you love her? Just because. Itu jawabnya. I just feel it, feel it right. Is it acceptable? Atau gue harus kasih alasan yang panjang dan berbelit-belit, cuma untuk menenangkan perasaannya? Ah, apakah benar ‘dia’ tenang kalau tahu semua alasan gue mencintai’nya’? Cinta sesuatu yang rumit. Dia bisa bagai kilat menyambar di siang hari, begitu saja. Atau tumbuh pelan-pelan karena terbiasa. Atau berbalik dari benci menjadi cinta. Apa ada rumus kimia yang bisa menerangkannya? Apakah memang ada prasyarat buat mencinta atau dicinta? Ada satu cerita menggelikan (sekaligus mengharukan) dari temen gue tentang cerita gimana dahulu kedua orangtuanya saling setuju untuk menikah dan hidup bersama (dan tentu mencinta selama hidupnya). Konon, kedua orang itu baru saling kenal, tidak lebih dari 2 bulan, lalu sang perjaka kontan melamar si gadis di hadapan orangtuanya, dan ketika orang tua (si gadis) bertanya apa yang membuat sang perjaka berani (cenderung nekad) melamar? Jawabnya sederhana : “Abdi tos teu kiat..”. Jawaban polos yang tidak rasional atau romantis sama sekali. Lalu apa yang membuat si gadis mau menerima (tentu diterima, karena anaknya yang belakangan cerita sama gue) pinangan perjaka polos (atau bodoh) itu? Karena si gadis yakin. Saat perkenalan yang cuma sesaat (kurang dari dua bulan, bandingkan dengan pacaran generasi kita sekarang yang bisa sampai 5 tahun dan tidak nikah-nikah juga!) tidak menghalangi perasaan dan intuisi si gadis untuk mengenali bahwa memang si perjaka lah jodohnya. Just feels right! Ha, pasti loe semua bertanya-tanya, apa si perjaka itu waktu itu sudah kaya atau terkenal atau punya kelebihan fisik luar biasa? Tidak! Sedikit pun tidak. Apa mereka berdua menyesal? Tidak tahu, yang jelas sekarang mereka bisa membina keluarga bahagia, rukun dan tentram. Is it marvelous?

 

So, what’s the point of babbling blah blah blah? Setiap orang punya cara mencinta. Tidak ada yang salah, tidak ada yang manipulatif, tidak ada yang curang, bahkan tidak ada yang benar. Yang ada hanya cocok atau tidak. Memilih cara untuk mendekatinya dan mencintainya adalah jalan untuk meraih hatinya, bukan sekedar strategi untuk memenangkan perang. It’s not a war between you and her or you and him. A war only exists in your head, is it to win a trophy and feel proud or make yourself as a part of her/his happiness. So, there’s no winner or loser. If I do feel like a loser, it’s because I intend to win the war against her from the first time. And since it’s a play, there’s no pure love in it. Is it?

Ari Lasso once said : “Touch her by heart, she will be yours forever”. I believe that. For the love of my (rest) life, I just wanna sit near to you, looking deep into your eyes, holding your hands, flying with your soul, and say : I’m here for you.

Leave a Reply