Survey Habitat#1

October 26th, 2005 by anggasinaga

Minggu, 23 Oktober 2005

Bukatanah1

Survey Habitat For Humanity Ke Desa Bukatanah, Lembang

Walau melelahkan, hari ini terasa amat menyenangkan. Survey Studio Habitat yang pertama ke desa Bukatanah di Lembang! Satu lagi hari yang menyenangkan bersama para sukarelawan Habitat, seperti hari-hari yang lainnya, melelahkan, tapi menyenangkan karena menyegarkan hati dan paru-paru. Menghirup udara pedesaan yang masih asri dan diwarnai oleh aroma kandang sapi boleh dibilang pengalaman yang menyenangkan buat orang-orang yang sehari-hari tinggal di kota kayak gue. Hmmmmfffff…tariiiiik…hufffffff…buang…..segar!

Tujuan dari survey kali ini adalah mendata kebiasaan dan kebutuhan calon home partners terhadap ruang-ruang di dalam rumah dengan cara mengambil segala data fisik rumah mereka sekarang dan mengamati kebiasaan hidup mereka. Terinspirasi dari buku “Media House Project”, satu lagi buku Spanyol terbitan IaaC+Metapolis. Buku itu bercerita tentang bagaimana satu studi dilakukan untuk merekam data kebiasaan hidup dan menyimpulkannya sebagai suatu kebutuhan penghuni rumah akan ruang-ruang di dalamnya, dengan menganalogikan proses aktivitas sebagai jaringan operasi software computer. Menganalogikan rumah sebagai komputer dan merekam data untuk kemudian diinterpretasikan sebagai data digital. Cara penyajian buku ini benar-benar eye catching, sangat grafis dan documental. Nah, pendekatan inilah yang coba kita adaptasi ke dalam Studio Habitat. Dengan form-form yang gue siapin bareng Peter dan Oky, kita ngerancang supaya data-data yang terekam di lapangan bisa akurat walau sangat grafis dan penuh foto.

Bukatanah2_1

Survey berjalan lumayan lancar karena apresiasi calon home partners dan warga desa sangat baik dan terbuka. Malahan kita udah janjian untuk kapan-kapan nginep (kebetulan di ujung desa adalah rumah Erwinthon yang baru) dan bikin acara bareng-bareng warga desa. Hmmm,…buat kami anak-anak kota tentu pengalaman menginap di desa terasa sangat segar dan menantang. Recording data berjalan lancer, para volunteer tampaknya sangat menikmati, begitu juga buat para mentor (Peter, Oky, Paulin, Ebet dan gue). Sayangnya kenikmatan nongkrong di bale-bale depan  rumah Bang Erwin terasa kurang karena tidak ada gorengan dan kopi hangat, ini bulan puasa bung! Hehehehehe….

Kurang lebih 4 jam hanyut di suasana desa, begitu kita kembali ke Bandung yang macet dan hujan, semua beban hidup kembali terasa berat. Huffff…Let’s get back to real life, man!

Desa Bukatanah,

Bareng Peter, Oky, Paulin, Ebet, Jappa, Milly, Japra, Adi, Liza, Yurike, Fitri, Nessa&Cai

Allahumalakashumtu…

October 22nd, 2005 by anggasinaga

Sabtu, 23 Oktober 2005

Kepatihan1_4

City Reading#1 – Kepatihan

Jalan di mana terletak Toserba Yogya-Griya dan Pusat Perbelanjaan Kings

18.08

Beduk maghrib sudah berlalu bermenit-menit lalu,

Kendaraan kami masih belum bergerak,

Terjepit di tengah-tengah arus,

Antara manusia, kendaraan, gerobak jualan dan becak,

Inikah gambaran asli wajah kota?,

Di saat para malaikat menyembah menyebut namaNya,

Dan para orang tua menanti sabar di rumah,

Dengan semangkuk kolak hangat dan segelas teh manis,

Sementara kita masih berkeliaran di tengah jalan,

Benar-benar di tengah jalan,

Inikah gambaran asli wajah kota?

Jutaan sel terhanyut dalam derasnya arus,

Tak peduli dengung suara doa,

Semangkuk kolak yang menjadi dingin,

Inilah wajah kota,

Yang akrab dengan eksibisi dan konsumerisme

Ah, benar inikah gambaran asli wajah kota?

Di dalam mobil Visto milik Oky,

Bersama Oky dan Peter.

The Twins’ First Mandarin Album

October 21st, 2005 by anggasinaga

Sabtu, 22 Oktober 2005

Music Review #2 – CD - “Trainee Cupid” (Twins)

Twins are Charlene Choi & Gillian Chung

Trainee_cupid

The Twins’ First Mandarin Album! Tagline ini bertebaran di media massa waktu mereka merilis album ini di Taiwan.

Gue dapet cd ini sebenernya udah lama, tapi gue baru sempet dengerin bener-bener seminggu belakangan. Dulu gue beli cd ini terus terang karena covernya menarik, foto dua gadis manis dalam seragam sekolah. Hmmm… I really like those beautiful Paopei! ;> Gue belum denger album rekaman mereka sebelumnya, tapi gue baca dari beberapa review, album ini dianggap sebagai ancaman buat Pop-Group S.H.E di Taiwan. Duo yang berbeda umur 1 tahun ini (mereka gak bener-bener kembar, lho!) pasti salah satu bintang pop Taiwan yang digarap secara serius, dengan manajemen yang sangat serius.

Musik mereka walau ringan tapi digarap dengan serius. Komposisi nya pun tidak main-main, walau dari segi kualitas suara biasa-biasa saja, namun penampilan mereka yang memang menyegarkan mata tidak dapat dipungkiri bakal mendongkrak penjualan  album! Toh, gue beli album ini lebih karena covernya. Dari 3 cd yang gue beli waktu itu, Twins yang paling lumayan. Dua lainnya, Cecilia Cheung dan Boa agak mengecewakan, walau mungkin dari segi kualitas juga tidak bisa dibilang jelek. Nomor pertama “Wu Tik Chau Jen” merupakan nomor paling favorit gue, karena iramanya cepat, lagunya juga riang, walau gue gak ngerti apa artinya, tapi di lagu ini mereka bisa mencerminkan citra ‘gadis manis bernyanyi dalam seragam sekolah’. Menghentak dan bersemangat. Terus terang, lagu ini enak banget buat diajak goyang! Hmmm,..I can’t wait to get into dance floor with this songs! Semua komposisi di album ini dikerjakan dengan layer yang tebal dan serius, hampir gak ada celah yang kosong. Tentu ini juga demi membantu mendongkrak kualitas suara mereka (yang walau berdua tapi seringkali bernada monotonik alias satu suara). Vokal latar juga menjadi kekuatan mereka di sini, dengan harmoni yang cukup kuat jelas semua lini layer musik mereka tertata rapi. Sebagai resep album bintang pop, kemunculan nomor balada dengan iringan piano, biola dan gitar akustik (layaknya kebanyakan lagu balada) seperti “Ce Yau Wo Chang Ta” jelas menunjukkan kelas mereka sebagai bintang pop Taiwan teratas. It’s sounds good!

Pop, ringan, dikemas dalam industri musik yang serius udah jadi jaminan kalo album ini bakal diserbu oleh penggemar mereka. Terlebih lagi dengan aksi panggung yang luar biasa menarik dan sangat eye candy. Gue juga seneng denger cd ini kalo bener-bener udah suntuk banget sama deadline yang jadi beban. Kalau anda-anda bosan dengan musik pop standar barat atau musik rock metal ala tahun 90-an, pengen denger sesuatu yang segar dan menggelitik, denger aja album ini barang 1 jam. Dijamin hati  terasa ringan! Tapi ingat, jangan terlalu lama (kecuali anda juga terobsesi dengan beautiful paopei kayak gue), bisa-bisa rusak selera anda untuk mencerna Jack Johnson atau John McLaughlin. ;)

“More Public, Less Private” ?

October 21st, 2005 by anggasinaga

Jum’at, 21 Oktober 2005

Sore ini gue, Oky ama Reza buka di Starbucks Ciwalk. Di luar kebiasaan, karena sejujurnya gue lebih suka tempat yang lebih ‘murah’. Hehehe,..tapi berhubung hari ini kita ngerasa perlu ganti suasana, dan Reza nawarin pake kartu kreditnya buat upgrade minuman kita dari tall ke grande, gue ama Oky oke buat buka di sono.

Ngobrol ngalor ngidul, sambil ngebahas buku yang baru aja Reza beli, buku terbitan IaaC, Cataluna. Isinya macem-macem, mulai dari multi layers sampe research data gila-gilaan. Gue tergila-gila ama buku ini, cara nyampeinnya sama persis dengan apa yang gue impikan 4 tahun lalu. Hehehehe….dari ngobrol ngalor ngidul itu, muncul selintas kalimat di otak gue. Sebaris kalimat yang berhubungan dengan isu kontemporer yang juga dibahas di OPEN, masalah ruang publik dan ruang terbuka. It’s just come out = “Urban Future : More Public Less Private”. 

Hmmmm….

Jakarta Powercell

October 20th, 2005 by anggasinaga

Jum’at, 21 Oktober 2005

Pers01_final_7

My Project Review #1 – Jakarta Powercell

Competition Project By Apta

Done by Ardzuna Sinaga , Irwin Konstantin , Oky Kusprianto, Peter Ong & Ismail Reza

Jakarta Powercell adalah media dimana pelaku urban dalam aktivitasnya bisa ‘dinikmati’ oleh khalayak. Duduk di kafe, browsing internet bahkan berkeringat dalam ruang fitness menjadi perilaku budaya yang bisa ditonton serta trendy. Sebagai sebuah media, Jakarta Powercell memenuhi kodratnya sebagai wadah :  “Architecture create events”. (Ardzuna Sinaga)

Proyek ini baru aja selesai. Masih terasa gak terlalu memuaskan karena ada beberapa konsep arsitektur yang belum terlihat dengan jelas, padahal di awal-awal diskusi banyak ide yang bergulir. Tema proyek Jakarta Powercell di-generate dari ‘battery’, sel pembangkit tenaga yang bisa memberi energi dan kehidupan pada benda yang digerakkannya. Pemikiran awal dari konsep ini kurang lebih sama dengan prinsip kerja batere. Mengingat isu krisis energi yang  melanda negeri kita, gue ngerasa diperlukan adanya pemikiran arsitektur yang hemat energi, malah kalau memungkinkan membangkitkan energi. Kebetulan beberapa waktu lalu gue baca artikel tentang tabungan energi India yang diperoleh dari sector agro yaitu tanaman jarak. Konsep seperti ini yang belum diadaptasi oleh negeri kita. India optimis pada tahun 2015 mereka bisa mandiri dari segi energi tanpa mengandalkan BBM, sementara di sini kita masih meributkan arah kompensasi BBM. Satu hal yang sangat ironis, mengingat sejarah negeri ini dan India yang sangat erat dengan kebangkitan bangsa-bangsa Asia-Afrika (dulunya) !

Konsep utama dari proyek ini adalah energi dan hijau. Dengan memanfaatkan energi matahari yang berlimpah, pemanfaatan sirkulasi udara maksimal serta penggunaan air sebagai penjaga suhu, bangunan ini berusaha mandiri. Dari segi urban design, proyek ini berusaha mencetuskan isu open&public space.

Active_building_copy

Isu-isu urban yang dijadikan urban vision adalah :

-Bangunan sebagai pembangkit energi bagi lingkungan sekitarnya.

Konsep ini terasa sangat optimis, tapi visi untuk menghadapi tantangan krisis energi harus diselesaikan dengan pemikiran yang positif.

-Pemanfaatan lantai dasar sebagai ruang public.

Ini jelas isu urban design kontemporer yang mulai banyak diadaptasi oleh negeri-negeri Asia seperti Hongkong dan Singapore. Penyediaan publik space yang cukup dan manusiawi juga akam me’manusia’penghuni kotaitu sendiri.

-Perencanaan jalur pedestrian yang menerus ke dalam bangunan.

Isu ini juga termasuk ke dalam skenario menjadikan lantai dasar sebagai ruang bagi publik (public domain).      

Building_as_landscape_copy

Isu-isu dan tema di atas dikombinasikan dengan kebiasaan gaya hidup kota Jakarta yang serba eksibisionis. Kenikmatan berada di ruang publik seperti mal saat ini adalah dilihat oleh orang banyak. Reza mencetuskan “people watching beautiful people”, gue setuju istilah itu. Budaya tontonan juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup kota sehari-hari. Bahkan melakukan aktivitas di ruang publik akan terasa sangat luar biasa bila kita ‘ditonton’ oleh orang lain. Skenario inilah yang ditunjukkan dengan menempatkan fungsi fitness (Celebrity Fitness) di muka bagunan, menonjol dari fasad dan memakai bahan penutup kaca transparan, dengan maksud supaya aktivitas di dalamnya terlihat jelas dari luar bangunan. Budaya tontonan ini yang gue ekspose.   

Dari segi energi, untuk menunjang konsep bangunan sebagai pembangkit energi kita memakai solar cell (photovoltaic) pada sebagian fasad bangunan bagian atas serta sebagian besar atap. Selain itu juga ditempatkan kincir sebagai pembangkit tenaga angina pada atap bangunan bagian belakang yang merupakan lansekap hijau. Nah, salah satu konsep yang menarik dari arsitekturnya adalah perlakuan terhadap fungsi-fungsi yang dianggap sebagai sel-sel batere, berdiri mandiri, masing-masing ditunjang oleh struktur yang mandiri. Pemikiran ini juga membuat ruang dalam bangunan menjadi melompong, dan menjadikan Jakarta Powercell ini tidak terkesan sebagai bangunan besar, tapi kumpulan sel fungsional yang berada dalam satu konstelasi. Satu hal lagi, arsitektur ini diperkuat dengan lansekap di dalam bangunan yaitu di atas masing-masing fungsi yang membuat bangunan terasa hijau dan segar. Oh ya, satu lagi penggunaan air yang diterjunkan dari  atas salah satu fungsi bangunan dan disirkulasikan berputar melalui pipa yang menyambung mulai dari kolam di lantai dasar. Pada bangunan British Pavilion (Nicholas Grimshaw) perlakuan ini bisa menurunkan suhu di dalam bangunan sampai 10 derajat. Ini yang coba kita adaptasi.

Hasil akhir dari proyek ini belum ketahuan, tapi memang terus terang saja gue ngerasa produknya belum terlalu matang. Paling nggak beberapa pemikiran bisa diadaptasi di dalam proyek ini. Isu urban design dan tema hemat energi tentu saja menarik untuk terus digulirkan di proyek-proyek berikutnya. Hmmmm,..at least w try… ;)

You wanna try too?

Are You Going With Me?

October 20th, 2005 by anggasinaga

Jumat, 21 Oktober 2005

Offramp

Music Review #1 – CD - “Offramp” (Pat Metheny Group)

Pat Metheny Group are Lyle Mays, Steve Rodby, Dan Gottlieb, Nana Vasconcelos &Pat Metheny

2 minggu lalu gue dapet cd ini di Duta Suara Plaza Senayan. Rada kaget karena ternyata juga ada “Travels” yang udah jauh-jauh gue titip ke Mbak Ade dari Amrik. Dan emang rada kaget juga ama harganya yang lumayan mahal, tapi mengingat ni rekaman dari tahun 1982 wajar banget kalo dijual dengan harga segini 23 tahun setelahnya. Hmm,…kalo dipikir-pikir, rekaman ini berumur hanya 4 tahun lebih muda dibanding gue. Hehehe… It’ worth, man!

Sebelum “Travels”, di album ini pertama kalinya Pat Metheny pake synthesizer. Album ini boleh dibilang adalah salah satu album terpenting sepanjang sejarah perjalanan Pat Metheny Group. Di sini juga Pat pertama kali pake synclavier sebagai alat komposing, yang boleh dibilang mendahului sejarah MIDI dalam penggunaan komputer  sebagai alat bantu. Di sini juga Pat memperdengarkan suara tangisan paus-nya yang terkenal sampai lebih dari dua dekade setelahnya. Pat disebut juga berhasil mengkomposisikan synclavier dengan bunyi-bunyi alat musik konvensional, terutama di nomor “Are You Going With Me?”. Komposisi ini juga salah satu komposisi terfavorit gue dari Pat Metheny Group, bahkan jauh sesudahnya, di “More Travels” (1993) Pat kembali membawakan nomor yang sama. Mengingatkan betapa pentingnya komposisi ini sebagai batu lompatan. 

Percayalah, begitu mendengar album ini, kita gak akan ngerasa kalo album ini direkam 23 tahun yang lalu. Komposisi dan sound yang diperdengarkan terasa fresh, bukan saja karena pemakaian synthesizer (yang bisa dibilang masih langka bagi musisi jazz jaman itu), tapi juga karena nilai keabadian pada komposisi-komposisi yang ada di situ. Originalitas yang tidak lagi ditemukan pada album-album pasca “Imaginary Day”, seperti “Speaking Of Now” (2002). Entah pada rekaman PMG yang paling baru, “The Way Up”, gue belum berhasil beli yang ini. Minggu lalu sebenernya gue lihat “The Way Up” di Aksara, tapi masih import dan mahal banget. ;P Originalitas serupa yang terdengar pada nomor  “Au Lait”. Mungkin gue emang telat sekali denger album ini, tapi setelah sekian lama pun, komposisi-komposisi pada album ini masih terasa segar. Menandakan nilainya yang “abadi”, karena setelah sekian banyak rekaman yang gue denger, album ini masih punya nilai jual yang tinggi. Salut! Gak salah kalo rekaman ini menghadiahkan Grammy buat Pat Metheny Group pertama kalinya. Buat penggemar Pat Metheny Group, ini rekaman yang sangat penting untuk didengar. Buat yang bukan penggemar, paling tidak rekaman ini harus didengar mengingat nilai sejarahnya atas penggunaan synthesizer, satu hal yang membuat PMG bisa disejajarkan dengan RTF (Return To Forever). Sangat penting! 

Gue cuplik sedikit komentar Pat Metheny sendiri tentang komposisi “Are You Going With Me?” di album ini:

“ This was in the first batch of tunes that I wrote after I begin working with Synclavier, a new (at that time) and powerful digital music system that allowed me to make multitrack recordings and manipulate musical data with a computer. Because I could literally improvise right into the computer, for the first time I and other musician had the opportunity to create nearly fully realized versions of tunes very quickly. I then found that by playing a solo over this form with the GR300 guitar synth, another relatively new instrument for me, a certain new sound was possible that I had never experienced before. This remains one of my favourite tunes to play. “    

Garing!Bandung#1

October 20th, 2005 by anggasinaga

Kamis, 20 Oktober 2005

OPEN : new designs for public space includes projects from six continents that are changing the way we live, work and play in cities.

(Introduction by Raymond W Gastil and Zoe Ryan for OPEN Exhibition)

Sore ini pertemuan Super Bandung yang ke-4. Seperti biasa, di Saint Cinnamon Ciwalk, menjelang buka puasa gue udah nangkring di meja depan koridor bareng Reza dan Suang. Hari ini kebetulan juga ulang tahun Oky, jadi kita udah siapin satu loyang brownies Cinnamon buat dikasih pas saat buka nanti. Isu utama yang akan dibahas hari ini adalah masalah serangan ke Unpar (Unpar Invasion) yang sebetulnya gue lebih seneng menyebutnya sharing, tapi Reza berkeras istilahnya adalah “serangan”. Kenapa disebut serangan? Dan kenapa seolah ada seiris emosi yang tercemplung dari misi ini?

Cerita tentang kenapa dan mengapa mungkin dimulai sudah cukup lama, sekitar 3 tahun lalu waktu kita mulai merekrut lulusan Unpar sebagai staf di WCP. Tapi bukan cerita itu yang akan dibagi kali ini. Melainkan cerita tentang semangat Super Bandung untuk bikin road show keliling Bandung, membentuk komunitas budaya dan arsitektur yang  kental dengan rasa ‘Bandung’-nya. Komunitas serupa di kalangan seniman dan pe-distro Bandung mungkin sudah lebih dulu bergerak lewat Common Room. Dan mereka sukses dengan berhasil menerbitkan urban cartography dan ikutan CP-Biennale di Jakarta. Melihat resources yang ada saat ini, ditambah prestasi yang kita miliki, para arsitek Bandung, sudah saatnya untuk bangkit membentuk komunitas budaya yang berpijak pada arsitektur dan urban design. Super Bandung, komunitas yang lahir dari para arsitek Bandung bersemangat untuk memberdayakan semangat berarsitektur, berkota dan meng-kota di seantero Kota Bandung. Setelah diskusi yang cukup panjang diselingi canda tawa serta lirikan ke mojang-mojang yang seliweran di depan Saint Cinnamon, akhirnya diputuskan untuk mengadakan road show keliling kota dengan sasaran utama adalah mahasiswa dan praktisi yang aktif di kancah per-arsitekturan. Apa yang akan dibagi? Jelas semangat berarsitektur, berkota dan meng-kota tadi. Lalu apa yang ukuran sukses dari rencana ini? Jelas ukuran suksesnya adalah terbentuknya komunitas yang guyub, adanya regenerasi arsitek dan urban designer yang aktif  dan adanya pertemuan-pertemuan informal seperti acara ngopi-ngopi di Ciwalk ini.

Lalu muncul pertanyaan yang sudah digelisahkan oleh beberapa orang selama ini. Kenapa namanya jadi Super Bandung? Apakah tidak terkesan arogan? Apakah nanti malah jadi mengundang  banyak pandangan kontra? Gue sendiri setuju dengan pertanyyan-pertanyaan ini. Sms dari Rizal juga menyatakan hal yang sama. Pak Apep menyeru supaya kita bias jalan dengan nama yang lebih sederhana, lebih merendah tanpa semangat pamer sama sekali. Istilah Pak Tata adalah humble. Lagi-lagi gue setuju, Oky juga mengiyakan. Kita perlu keluar dengan nama yang bisa mewakili seluruh komunitas di Bandung, bukan hanya para arsitek yang sering menang sayembara. Toh banyak sekali rekan-rekan kita yang juga arsitek dan urban designer tapi tidak banyak ikut sayembara hingga tidak menonjol. Belajar dari semangat Arsitek Muda Indonesia (AMI) yang juga punya semangat berbagi dan maju bersama di awal-awal dulu, kami tidak ingin kemudian terjebak pada eksklusivitas tak berdasar. Eksklusivitas hanya menyebabkan kita terlempar dan terjauhkan dari masyarakat dan kenyataan. Itu mimpi buruk. Lalu kira-kira apa nama yang cocok untuk kita bawa?

Keluar beberapa istilah yang mungkin konyol atau bahkan provokatif. FPA = Front Pembela Arsitektur, cetus Oky. Istilah ini sebenarnya lebih jadi reaksi atas tindakan-tindakan FPI (Front Pembela Islam) yang seringkali salah kaprah, pro kekerasan dan malah jadi bahan tertawaan kaum intelek. Hmmm,..gue masih ngerasa gak sreg dengan nama ini. Terlalu sarkas rasanya, malah nanti mengundang reaksi yang negative dari kalangan muslim. Garing = Gerakan Arsitektur Aing! Ini istilah berikutnya yang dicetuskan Pak Tata dan Pak Apep. Entah kenapa kita orang Indonesia senang sekali dengan istilah-istilah yang berupa singkatan..hehehe. Trus juga muncul istilah Ghaib = Gerakan (Hanya) Arsitektur Indonesia-Bandung, dari Mbak Widi. Hahahaha…ini mungkin lebih ke arah lucu-lucuan. Lagi-lagi istilah yang berbau arab atau berkenaan dengan acara-acara gaib di televisi sering muncul. Mungkin ini adalah gambaran dari cara mentertawakan kebudayaan tontonan kita yang sedang marak itu. Gue sendiri lebih cocok dengan istilah yang kedua, Garing!

Bandung

. Menurut gue, Bandung itu identik dengan ‘bodor’. Ingat D’Bodor, grup pelawak dengan pimpinan Abah Us’us yang selalu memakai peniti besar di dadanya? Itulah Bandung. Lucu, santai, terkesan main-main, padahal bisa sangat serieus. Ngomong-ngomong tentang serius, ingat lagi dengan grup musik rock Serieus. Mereka memainkan musik dengan serius, tapi penampilan dan video klipnya terkesan santai dan lucu. Terasa lebih hangat. Bahkan tema-tema yang dibawakan pada lagu-lagu mereka pun terkesan nakal, menyentil kehidupan sehari-hari, walau tetap dengan santai dan ketawa-ketiwi. Minimal mengundang senyum orang yang mendengarnya. J Lihat juga gerombolan Extravaganza yang sebagian besar adalah urang

Bandung

, Aming, Tike atau Sogi, penonton mana yang tidak terbahak-bahak dengan lelucon cerdas mereka?

Garing!Bandung akan jadi nama yang bagus. Menurut gue. Kental dengan bau Bandung, tapi masih bisa serius walau terkesan mengundang tawa. Pemakaian kata ‘aing’ sudah sangat menggambarkan itu. Lalu dimana seriusnya? Jelas sangat serius karena kita akan mengangkat tema-tema dan isu-isu kontemporer arsitektur dan urban design sampai ke taraf akademik, artinya cukup sarat dengan teori dan wacana, untuk kemudian dicemplungkan ke tataran praktis. Untuk isu urban design, isu pertama yang akan diangkat adalah open space. Menyitir dari buku OPEN : new designs for public space, yang merupakan ringkasan dari eksibisi dengan judul serupa, akan ditelaah kasus-kasus perencanaan open public space dalam perancangan kota-kota modern saat ini. Mulai dari London sampai Singapore, dari Genoa sampai Johannesburg. Secara singkat saja, yang penting sudah menggambarkan fenomena kontemporer pada perancangan kota dan arsitektur saat ini.

Hari sudah makin malam, kue ultah buat Oky dengan gambar-gambar 12 dewa Yunani sudah habis. Malam kain dingin, tapi mojang-mojang masih berseliweran di depan Cinnamon. Namun gelas minuman yang kedua sudah habis. Banyak pekerjaan menanti di kos, termasuk pekerjaan menulis diary ini. J

Sampai ketemu hari Selasa depan di tempat yang sama. Tempat di mana mojang-mojang Priangan berseliweran, menyegarkan mata dan meneduhkan hati. “Where the grass is green and the girls are pretty…

Saint Cinnamon, Cihampelas Walk,

Bersama Oky Kusprianto, Suang, Ismail Reza, Achmad Tardiyana (Apep), Ahmad Rida Soemardi (Tata) dan Widiyani.